Friday, March 12, 2010 4:26

Menulis adalah Bisnis?

Tagged with: ,
Posted by dani akhyar on Sunday, March 29, 2009, 14:53
This news item was posted in Entrepreneurship, Featured, Marketing & Sales, Perbankan category and has 8 Comments so far.

(artikel ditulis oleh Dodi Mawardi-TN1, penulis & pelatih penulis, baru saja menerbitkan buku “Cara Mudah Menulis Buku“)

cover-buku1

Betulkah bila Anda memilih jalur hidup sebagai penulis, maka kondisi
Anda akan miskin? Atau paling tidak lebih miskin dibanding kerabat,
teman atau handai taulan Anda yang bekerja di sektor lain? Pengalaman
kami menunjukkan fakta sebaliknya. Seperti disinggung di bagian awal,
banyak penulis jaman sekarang yang bergelimang materi berkat hasil
tulisannya. Penghasilan mereka jauh di atas rata-rata, sehingga mampu
menjalani hidup lebih dari layak. Kami pun merasakan, begitu banyak
peluang di bidang penulisan yang belum sempat kami garap. Kami baru
mencicipi sebagian kecilnya saja, tapi hasilnya sudah melebihi
penghasilan dari profesi kami sebelumnya.

Kami sering kali mendapatkan pertanyaan, “Penghasilan penulis dari
mana saja sih?” Orang awam mungkin hanya melihat sumber pendapatan
penulis dari hasil tulisannya saja yang dimuat di media massa atau
dalam bentuk buku. Padahal Anda tahu sendiri, betapa sulitnya menembus
media massa buat penulis pemula. Tidak mudah pula meyakinkan penerbit
agar mau mencetak buku penulis baru. Jika kondisi itu yang terjadi,
maka hidup sebagai penulis merupakan langkah awal menuju kebangkrutan
finansial. Kalau penulis hanya mengandalkan buku atau tulisannya di
media massa, jarang-jarang yang mampu bertahan, walaupun beberapa
orang sudah membuktikan bisa.

Nah ternyata, peluang meraih pendapatan yang lebih banyak melalui
tulisan, tidak hanya dari menulis buku atau mengirim tulisan ke media
massa. Buku sudah jelas menghasilkan royalti buat penulis yang
berkisar antara 10 – 15 % dari harga jual. Sedangkan media massa
memberikan honor antara Rp 100 ribu – Rp 750 ribu per artikel. Di
samping itu, masih ada celah lain yang bisa memberikan hasil lebih
dari lumayan dan bisa menjadi sandaran hidup.
Beberapa yang sempat kami jalani adalah:
1. Membantu orang lain mewujudkan keinginannya memiliki buku (kami
sebagai co writer/penulis pendamping atau sebagai ghost writer).
Sumber yang satu ini cukup menggiurkan, karena sebagian besar dari
mereka yang ingin memiliki buku sendiri adalah orang-orang yang
berkedudukan tinggi atau berprestasi. Mereka biasanya mau membayar
dengan angka yang cukup memuaskan, tergantung negosiasi kita. Dari
pengalaman pribadi dan orang lain, menjadi co writer atau ghost
writer, layak menjadi salah satu sumber penghasilan utama. Yang
penting, Anda punya jaringan pertemanan yang luas dan tulisan Anda
berkualitas sehingga mereka percaya pada Anda. Menggarap sebuah buku
bisa dihargai antara Rp 10 juta sampai Rp 40 juta.

2. Menjadi editor profesional (baik editor buku maupun editor media
internal). Sumber penghasilan yang satu ini juga tidak bisa dianggap
remeh. Banyak orang yang hobi menulis masih membutuhkan perbaikan
tulisan di sana-sini. Di sinilah perlunya peran editor profesional.
Mungkin angkanya tidak sebesar menjadi co writer/ghost writer, tapi
biasanya jumlah calon konsumen yang butuh jasa seperti ini lebih
banyak. Selain perorangan, banyak lembaga/perusahaan yang membutuhkan
tenaga editor untuk memperbaiki media internal mereka.

3. Menjadi konsultan penulisan dan penerbitan (banyak orang yang mau
memiliki buku tapi tidak tahu caranya). Apa bedanya dengan point
pertama? Sumber penghasilan yang satu ini, hanya memberikan
konsultansi tanpa keterlibatan kita secara langsung. Mereka sudah
mampu menulis sendiri, hanya tinggal perbaikan serba sedikit. Kami
juga memberikan konsultansi bagaimana bila menerbitkan sendiri buku
tersebut. Kini makin banyak pihak yang maunya menerbitkan buku
sendiri, tidak melalui penerbitan yang sudah ada.

4. Menjadi pelatih penulisan (saat ini trend menulis semakin
berkembang dan kian banyak orang yang ingin bisa menulis). Sebuah
sumber pendapatan penulis yang tidak akan pernah habis. Dalam setiap
masa, selalu saja ada orang yang butuh ilmu penulisan. Pengalaman kami
menunjukkan daya tarik pelatihan menulis sangat tinggi, baik dalam
bentuk workshop atau pelatihan privat. Dari sejumlah pengalaman yang
pernah kami lakukan, ternyata pelatihan menulis diminati banyak orang.
Bahkan sebagian diantara mereka, mau mengeluarkan biaya dalam jumlah
besar agar mampu menjadi penulis. Baik untuk kepentingan pribadinya,
atau untuk menunjang kinerja perusahaannya.

5. Menjadi owner perusahaan penerbitan dimulai dengan sebuah
penerbitan independen. Kenapa tidak? Aturan dalam bidang penerbitan
membolehkan siapapun membuat buku dan menerbitkannya. Tidak ada syarat
khusus, yang mengharuskan penerbit berbentuk badan hukum tertentu. Ini
sebuah peluang sumber pendapatan yang luar biasa, bila Anda yakin
sebuah buku akan laris. Daripada diberikan kepada penerbit lain, lebih
baik terbitkan saja sendiri. Jalan ini juga sudah ditempuh banyak
orang, dan berhasil. Apalagi industri buku juga unik, karena pembaca
tidak peduli dengan siapa penerbitnya, yang penting bukunya bagus.
Jelas kondisi ini memberikan peluang yang sama besarnya kepada semua
penerbit baik penerbit lama maupun baru.

6. Spesialis peserta lomba. Ternyata banyak juga penulis yang menjadi
langganan lomba tertentu. Setiap tahun, paling tidak ada belasan
sampai puluhan lomba yang diselenggarakan berbagai perusahaan atau
insitusi. Kategori lomba bisa fiksi, bisa pula non fiksi. Ini akan
menjadi sumber pendapatan tambahan selain dari penjualan buku dan
media massa. Sejumlah penghargaan bergengsi, memberikan hadiah dalam
bentuk materi yang tidak sembarangan jumlahnya. Cukup untuk menghidupi
Anda dan keluarga selama bertahun-tahun dengan standar kehidupan di
atas layak. Kalau rajin, Anda juga bisa memenangkan lomba-lomba yang
hadiahnya berkisar jutaan sampai belasan juta rupiah.

Jika kita sibak lagi lebih dalam, sumber penghasilan dari dunia
menulis justru lebih luas dibanding bidang lain. Artinya, seorang
penulis bisa mengeksplorasi sekehendak hatinya dalam menghasilkan
tulisan yang bisa diserap pasar. Sepanjang manusia masih butuh tulisan
untuk dibaca, maka bidang penulisan tidak akan pernah membuat para
penulisnya sengsara. Tentu saja dengan syarat penulis tersebut
profesional dalam menjalaninya.

Ketika pertama kali terjun ke bisnis ini, perasaan khawatir tetap
ada. Bahkan, orang-orang terdekat kamilah yang pertama kali menguji
keputusan. “Apakah yakin dengan pilihan ini? Apakah menulis bisa
menjadi sumber pendapatan tetap? Sudah banyak orang yang gagal
menekuni dunia menulis.” Dan pernyataan serta pertanyaan meragukan
lainnya. Tapi makin dalam kami menyelami, makin terbuka mata kami
bahwa bidang menulis menyediakan begitu banyak peluang. Seperti kami
utarakan sebelumnya, kami baru mencicipi sebagian kecil saja dari
peluang-peluang tersebut.

You can leave a response, or trackback from your own site.

8 Responses to “Menulis adalah Bisnis?”

  1. 2009.04.02 01:48

    menarik,
    pertanyaannya bidang menulis seperti ini temasuk unsur apa ya fengshuinya?
    mengapa yang dinyatakan range penghasilannya hanya poin satu saja (ghost writer) ?
    bagaimana jam/irama kerja penulis?
    lots of nice points anyway
    thanks

  2. 2009.04.02 20:59

    menulis dan poto2 .. dua hobi baru yang lagi ngetren saat ini.
    menulis karena dengan semakin banyaknya blog gratisan dan jejaring sosial .. orang2 jadi senang kalo tulisannya dibaca dan dikomen orang lain, dan poto2 juga demikian selain untuk dokumentasi pribadi ato sebagai penghilang stres untuk kebanyakan para eksekutif muda.

    menulis dan poto2 sebagai pekerjaan yang menghasilkan uang .. salah satu atau kombinasi keduanya sangat mungkin untuk dijalani dengan semakin majunya teknologi, di mana dengan gratisan ato biaya yang minimalis pun banyak yang sudah menjadikan hobi tersebut sebagai pekerjaan tetap ataupun sampingan.

    **pengen juga nulis yang menghasilkan eui ..

  3. 2009.05.08 18:29

    insightful sekali… keren :D

  4. 2009.05.09 10:44

    bang..sebenarnya yang harus kita tulis itu harus sesuai pasar atau kita bisa nulis yang kita suka?? :mrgreen:

  5. 2009.05.11 11:39

    Salam,
    Wah terima kasih atas berbagai pertanyaannya. Saya coba jawab.
    Buat Indranesta:
    1. Rasanya tidak ada unsur fengshui-fengsuaian dalam menulis. Saya pun demikian. Selama kita melakukannya dengan sungguh-sungguh, belajar dari yang sudah pengalaman, maka insya allah semua berjalan lancar.
    2. Ghost writer? Ya memang itu yang paling menarik. Selain ghost writer ada juga co writer atau penulis pendamping. Dia adalah penulis yang menuangkan gagasan seseorang yang sibuk atau tidak mampu menulis. Bedanya dengan ghost, seorang co writer namanya terpampang di buku. Honornya? ya kira-kira seperlima atau seperempat atau sepertiganya Ghost Writer. Tergantung negosiasi dan pengalamannya.
    3. Ritme kerja? Hmmm penulis adalah penguasa dunia dan penguasa waktu. Dialah yang mengatur waktu bukan diatur oleh waktu. Merdeka!

    Buat Dino:
    - Kita harus bisa menulis sesuai yang kita suka tapi punya nilai jual alias sesuai selera pasar. Akan tersiksa jika menulis sesuatu yang tidak kita sukai meski laku di pasar.

    Trims

  6. peni_am
    2009.05.19 12:33

    Kayana yg no.6 oke tuh bang,,slain berduit, berprestasi juga.hehehe…

  7. Pande
    2009.05.29 08:03

    @dino
    Eh, ada dino. PA kabar?

    @bang dodi
    Biasanya topik yang prospek pasarnya cerah itu tentang apa bang?

  8. 2009.06.06 01:32

    Begitu sukarkah menghasilkan buku, sama ada buku fiksyen, buku ilmiah atau buku bukan fiksyen? Buku individu yang hendak menjadi penulis tetapi ramai yang tidak berjaya, apatah lagi sebagai penulis yang dapat memberikan sumbangan yang bermakna di dalam dunia penulisan. Malah bukan menjadi rahsia lagi, ada yang masih lagi bermain dengan angan-angan. Mengapa anda hendak menadi penulis buku? Menulis buku dapat dilakukan sepenuh masa sebagai profesional dan dapat juga sebagai kerjaya sampingan.

Leave a Reply