By : Dani M. Akhyar
Pernahkah kita menyadari, bahwa sebenarnya kita tahu lebih banyak daripada yang sudah kita lakukan? Saya tahu banyak fungsi-fungsi (feature) Microsoft Word tetapi tidak semua saya praktekkan untuk mengetik tulisan ini. Saya mengerti banyak sifat-sifat baik yang diajarkan dalam kitab suci, toh tidak semua saya amalkan. Banyak orang tua mengajarkan larangan-larangan kepada anak mereka, sementara mereka sendiri melanggarnya (misalnya : jangan merokok, nak! sementara sang ayah sendiri kebal-kebul kayak lokomotif!).
Seseorang tahu lebih banyak dari yang mereka sadari. We know more than we can tell, and we tell more than we can do. Kita tahu lebih banyak dari yang kita ucapkan, dan kita mengatakan lebih banyak daripada yang kita lakukan. Pengetahuan yang terakumulasi pada diri seseorang jauh lebih besar dari yang disadarinya. Akumulasi pengetahuan memungkinkan bertambah secara eksponensial di jaman informasi saat ini, ketika knowledge dapat diakses dengan mudah melalui internet.
Tetapi sudahkah kita bertanya : mengapa tahu lebih banyak tidak menjadikan dunia kita menjadi lebih baik? Jawabannya karena akumulasi pengetahuan itu tidak diikuti dengan tindakan-tindakan. Orang Jakarta bilang “NATO : No Action Think Only atau No Action Talk Only” alias mikir atau ngomong doang tapi nggak mau kerja! Dalam ranah pemikiran knowledge management, fenomena ini disebut knowing-doing gap. Tantangan setiap orang adalah, memperbanyak porsi tindakan-tindakan (action) dalam hidup mereka, karena yang membedakan keberhasilan seseorang bukanlah pemikiran atau ucapan, tetapi tindakan!
Seperti juga individu, organisasi dan kelompok penuh dengan pengetahuan tersembunyi yang berupa intuisi, pedoman, pola pikir, tips atau metode-metode, dan nilai-nilai yang tak disadari. Hidden knowledge itu sebagian besar berada di otak karyawan (lihat artikel sebelumnya “Dimana Letak Knowlwedge di Sebuah Organisasi?”) dan sisanya tersebar di ribuan dokumen-dokumen atau database perusahaan. Jika anda ingin tahu seberapa besar potensi knowledge yang dimiliki sebuah organisasi, lihatlah ilustrasi berikut. Sebuah perusahaan dengan 1000 karyawan, dengan rata-rata masa kerja 7 tahun, maka potensi knowledge perusahaan itu adalah sama dengan masa belajar perusahaan selama 1000×7 = 7000 tahun! Tantangan setiap perusahaan adalah mengubah energi potensial berupa knowledge tersebut menjadi energi kinetik yang menggerakkan seluruh resource organisasi untuk menghasilkan profit secara berkelanjutan.
Menjawab tantangan itu tidak mudah karena hambatan yang dihadapi cukup banyak. Ratusan penelitian tentang knowing-doing gap telah dilakukan dari berbagai perspektif antara lain psikologis, behavioral, teknis, dan yang dilakukan penulis yaitu dari perspektif komunikasi organisasi. Penelitian-penelitian tersebut menghasilkan ratusan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap hal tersebut. Saya sampaikan dua faktor yang berpengaruh sangat kuat yaitu faktor care-why individu dan foreign-body invasion syndrome.
Care-why (peduli-mengapa) berbeda dengan know-why (tahu-mengapa). Jika know-why adalah sikap mental untuk mengetahui alasan-alasan kausal dari suatu peristiwa, maka care-why lebih daripada itu, yaitu adanya perhatian (care) yang besar terhadap peristiwa tersebut. Perhatian inilah yang yang akhirnya memunculkan sebuah tindakan. Di samping itu, know-why biasanya hanya berfokus pada diri sendiri, sedangkan care-why berfokus pada lingkungan/orang lain. Misalnya : orang yang tahu penyebab banjir (know-why) tidak akan lebih besar tindakannya dibandingkan orang yang peduli (care-why) yang melihat penderitaan banyak orang akibat banjir.
Foreign-body invasion syndrome adalah suatu ‘penyakit’ mental yang tanpa sadar menggerogoti masyarakat profesional kita. Disebut juga Not-Invented Here (NIH), foreign-body invasion syndrome adalah satu kondisi dimana orang tidak mau melakukan sesuatu yang idenya datang dari orang lain dan bukan dari dirinya atau kelompoknya. Orang atau organisasi yang telah dijangkiti syndrome ini, sebaik apa pun ide orang atau kelompok lain, akan ditolaknya. Pokoknya segala sesuatu yang bukan berasal dari dia atau kelompoknya adalah salah. Pernahkah anda menemui hal ini? Banyak bukan?
Untuk mengatasi fenomena knowing-doing gap ini, ada satu tips kecil yang biasa saya lakukan sejak setengah tahun terakhir ini. Yaitu setiap saya mendapat knowledge dari membaca satu buku atau mengikuti forum atau seminar, maka saya tuliskan satu atau dua hal kecil yang bisa saya aplikasikan secara langsung dalam waktu dekat. Jika masih ada rasa malas menggayut, itu artinya ide aplikasi saya ‘kurang kecil’ sehingga harus saya pecah lagi menjadi sesuatu yang benar-benar mudah saya lakukan. Bagi saya, the smaller the better…
“We should be taught not to wait for inspiration to start a thing. Action always generates inspiration, inspiration seldom generates action” –Frank Tibolt (31 Dec 08)
Very good qoute and a very new one
saya setuju itu. Saya rasakan sendiri apa yang Frank Tibolt katakan. Kerja saya di Business Development membutuhkan inspirasi. Tapi pada akhirnya, aksi (action) oleh orang lain maupun diri saya sendiri yang menginspirasi lahirnya ide baru.
A very good and new quote
saya setuju dengan yang Frank Tibolt katakan. Kerja saya di bidang Business Development menuntut saya berinspirasi. Tapi akhirnya, aksi (action) orang lain atau diri saya sendiri yang saya pelajari untuk menimbulkan inspirasi baru.
Terutama Quote yang terakhir, sangat bertentangan sekali dengan saya yang baru mau bergerak setelah terinspirasi
Tulisan yang inspiratif untuk menggerakkan saya mencari inspirasi dengan benar ..