Wednesday, March 10, 2010 7:24

Bisnis Musiman: Kambing Kurban

Posted by cakso on Wednesday, December 17, 2008, 8:56
This news item was posted in General category and has 1 Comment so far.

Hari Raya Idul Adha 1429 H baru aja lewat. Kali ini saya merayakannya di luar kota. Bersama keluarga besar, saya menghabiskan waktu Idul Adha di Mega Mendung tepatnya, sembari merasakan suasana perayaan Idul Adha dengan nuansa pedesaan dan pegunungan yang berudara segar.

Entah mengapa setiap kali merayakan Idul Adha ingatan saya selalu menjangkau ke belakang, tepatnya pada perayaan serupa di tahun 1426 H, atau di tahun 2005 Masehi. Pada saat itu, seorang teman dekat saya -anggap saja bernama Andi- mengajak saya untuk ikut terlibat dalam bisnis dadakan yang muncul di kepala dia: berdagang kambing kurban!

Ceritanya, kira-kira  dua bulan sebelum 10 Dzulhijah 1426 H Andi pergi ke Magelang, Jawa Tengah, bersama kakaknya. Meskipun kepergiannya tersebut untuk tujuan santai, di sana dia secara tak sengaja bertemu dengan sekelompok peternak kambing. Para peternak itu bilang bahwa ternak mereka sering diborong oleh para pedagang kambing kurban, termasuk pedagang kambing dari Jakarta.

Sepulang ke Jakarta, Andi iseng bertanya kepada ayahnya, yang kebetulan mengelola koperasi karyawan tempat ayahnya bekerja, untuk menanyakan apakah mungkin dana koperasi dia pinjam untuk waktu tertentu, misalnya 3 minggu? Ayahnya bilang, itu tak masalah, asalkan ada hitam di atas putih, dan pengurus koperasi secara kolektif setuju.

Singkat cerita, Andi tertarik untuk berdagang kambing kurban. Berhubung tabungan dia terbatas, dia harus putar otak untuk meminjam dana, dan salah satu yang ada di benak dia adalah dari koperasi itu.

Setelah yakin, sekitar seminggu kemudian dia kembali ke Magelang untuk menggali informasi lebih detail dari kelompok peternak yang pernah ia temui. Dia belajar bagaimana cara memilih kambing yang memenuhi syarat untuk dikurbankan, sekaligus bernegosiasi mengenai harga jual yang disepakati. Setelah puas, dia kembali ke Jakarta 3 hari kemudian.

Di Jakarta, dia membuat hitung-hitungan finansial, rencana penjualan, dan orang-orang yang akan ia libatkan untuk membantu usahanya itu. Nah, salah seorang yang ia libatkan adalah saya.

Pada suatu siang sepulang dari Magelang yang kedua kali dia telepon saya, “Lagi sibuk, Cak?”

Nggak, Di. Ada apa? Kok tumben nih telpon-telpon?” saya menjawab telepon dia.

“Tertarik menyetor dana untuk bisnis kambing kurban nggak?” tanya Andi.

“Detailnya gimana, Di?” saya menjadi penasaran.

“Gampang aja. Elu pinjemin gue uang untuk usaha gue. Paling-paling 2 minggu aja, setelah itu gue kembalikan, ditambah dengan keuntungan sejumlah tertentu,” kata dia.

“Mmm… boleh juga tuh, Di! Ngomong-ngomong, berapa persen nih, Di? He..he..he!” saya bertanya dan makin penasaran dengan potensi keuntungan yang akan saya dapatkan.

Gue sih nggak janji banyak. Paling-paling 5% dari uang yang gue pinjam deh. Gimana? Tertarik?” tukas dia.

Kayaknya nggak masalah, Di. Kasih gue waktu untuk pikir-pikir berapa dana yang gue setor ya. Besok gue kabari deh,” jawab saya sambil menyudahi percakapan.

Sumpah, saya tertarik untuk terlibat dalam usaha musiman tersebut. Malamnya saya berhitung, kira-kira berapa uang yang akan saya setor. Seingat saya, saat itu di tabungan saya ada uang Rp 25.000.000,00. Jika saya setor semua, tentunya saya tidak bisa berkutik bila ada keperluan mendadak yang membutuhkan uang. Namun dengan menyetor semuanya saya akan punya potensi keuntungan Rp 1.250.000,00 dengan waktu 2 mingguan saja.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, keesokannya saya telepon Andi, “Di, paling-paling gue bisa kasih Rp 10.000.000,00 deh. Sebetulnya sih uangnya lebih dari itu, tapi gue jaga-jaga aja seandainya ada keperluan mendadak. Nggak apa-apa kan?”

Nggak masalah, Cak. Yang penting elu percaya sama gue,” kata dia.

Seminggu sebelum Idul Adha uang tersebut saya transfer ke rekening Andi. Sebetulnya Andi memang sudah harus melakukan pengeluaran dana semenjak dua minggu sebelum Hari-H. Dia harus membayar uang muka (down payment) kepada para peternak, pemilik truk angkutan, pemilik lahan untuk menaruh kambing-kambing kurban, hingga membuat bahan-bahan promosi seperti pamflet atau brosur. Untungnya dana pinjaman dari koperasi tempat ayahnya menjadi pengurus sudah digelontorkan, ditambah dengan tabungan pribadi dia.

Pada H-3, kambing-kambing yang dia pesan sudah tiba di tempat Andi berdagang: di daerah Cinere. Dia mendatangkan 120-an ekor kambing, menggunakan tiga buah truk, langsung dari Magelang. Setiba di Cinere, dia teliti satu per satu kambing-kambing tersebut, dan rupanya ketahuan ada sekitar lima ekor yang tidak memenuhi syarat (terlalu kurus, gigi geraham belum tumbuh lengkap, dan terselip satu ekor kambing betina). Ada pula 3 ekor kambing yang sakit, sehingga terpaksa dilego lebih cepat ke penjual sate kambing.

Saat itu saya pun iseng ikut serta memasarkan kambing-kambing kurban tersebut, melalui internet, pamflet, dan secara tatap muka dengan teman-teman sekantor yang berdomisili di sekitar Cinere. Tapi strategi saya ini jelas kalah jitu dengan cara Andi, yakni memasarkan kambing-kambing kurban kepada para pengurus masjid (yang otomatis menyelenggarakan kurban) dan organisasi-organisasi kemasyarakatan lainnya.

Tepat di H-1 kambing-kambing kurban itu laku sekitar 80%. Dan sisa 20%-nya laku pada saat Hari-H dan H+1. Praktis pada H+2 aktivitas yang dilakukan adalah membersihkan lokasi penjualan, dan melunasi kewajiban-kewajiban kepada pihak lain.

Seminggu kemudian Andi mengundang saya untuk bertemu sekalian makan siang di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Dia akan melunasi pinjaman dana dari saya, dan membayarkan keuntungan yang dia janjikan. Dalam pertemuan itu pula Andi menggambarkan secara sederhana hitung-hitungan bisnis musiman kambing kurban yang telah dia jalankan sbb. (berlaku pada tahun 2005):

Pengeluaran:

- Harga kambing per ekor rata-rata Rp 550.000,00, jika 120 ekor membutuhkan dana Rp 66.000.000,00

- Biaya pengangkutan kambing antara Magelang-Jakarta Rp 1.500.000,00 (sewa kendaraan, jasa pengemudi, BBM), untuk 3 truk dibutuhkan Rp 4.500.000,00

- Pungutan-pungutan di jalan (jembatan timbangan, jalur transportasi khusus, dll.) dianggarkan Rp 500.000,00/truk, maka untuk 3 truk dibutuhkan Rp 1.500.000,00

- Gaji pekerja Rp 50.000,00/orang/hari, bila ada 6 orang selama 6 hari menjadi Rp 1.800.000,00

- Makanan dan minuman untuk kambing, Rp 500.000,00/hari, untuk 5 hari menjadi Rp 2.500.000,00

- Listrik Rp 200.000,00

- Sumbangan keamanan untuk lingkungan setempat Rp 300.000,00

- Lain-lain Rp 1.500.000,00

TOTAL pengeluaran Rp 78.300.000,00

Pemasukan (termasuk kambing yang tidak memenuhi syarat untuk kurban):

- Harga jual kambing rata-rata Rp 800.000,00, maka 120 ekor kambing menghasilkan pemasukan Rp 96.000.000,00

Keuntungan Rp 17.700.000,00

Dari keuntungan sebesar itu, Andi harus membagikannya kepada para pemodal, dan porsi kuntungan yang dia tangguk sendiri adalah sekitar Rp 10.000.000,00.

Ck..ck..ck…

Sungguh hasil yang lumayan untuk kerja keras yang berlangsung selama kurang dari sebulan, baik sebagai penyetor dana (investor), maupun sebagai pedagang kambing kurban sendiri.

Sayangnya pada Idul Adha di tahun-tahun sesudahnya Andi selalu kebanjiran proyek lain, sehingga sampai saat belum bisa menggeluti bisnis musiman kambing kurban lagi.

You can leave a response, or trackback from your own site.

1 Response to “Bisnis Musiman: Kambing Kurban”

  1. 2009.10.07 05:12

    thanks untuk ceritanya :P :P

Leave a Reply